AZIMAT-AZIMAT

Benda-benda rajahan banyak digunakan sebagai jimat pribadi atau dipasang di dinding rumah sebagai sarana tolak bala atau pengusir gangguan mahluk halus. Namun sayangnya, Penulis seringkali mendapati rajahan-rajahan itu, sekalipun masih menyimpan tuah sebagai pengusir aura-aura negatif, tetapi kadar kekuatan gaibnya sudah sangat menurun.
Sebagai benda gaib asma'an, dan sebagai benda gaib isian, seharusnya benda-benda itu digunakan sebagai sarana doa dengan cara si pemakainya sering membaca ulang doa atau amalan yang tertulis dalam rajahan itu, dengan tangannya menyentuh dan bergerak mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahannya, atau digenggam jika bendanya kecil, untuk mengsugesti supaya kekuatan gaib benda itu tetap hidup dan energinya tetap kuat.
                Sebuah jimat rajahan (dan semua benda gaib asma'an dan isian) tidak bisa dianggap sekali dibuat akan terus kuat kegaibannya dan berfungsi selamanya, karena kekuatan jimat itu menyatu dengan sugesti pemakainya. Semakin kuat dan sering seseorang menuangkan sugesti ke dalam jimat rajahan itu, kekuatan gaibnya akan semakin kuat. Bila seseorang tidak memperhatikannya, apalagi hanya dipajang di dinding saja atau hanya disimpan di dalam dompet saja, maka lama-kelamaan kekuatan gaibnya akan melemah. Sama juga dengan ilmu gaib / khodam, jika jarang dibaca amalannya, kekuatan gaibnya akan memudar. Semua benda gaib yang kita miliki, dalam bentuknya keris dan pusaka, batu cincin / akik, mustika, dsb, akan hidup dan kuat kegaibannya bila kita sering menuangkan doa dan sugesti ke dalamnya.

Dalam penyimpanannya, sebaiknya semua benda gaib tidak dibungkus dengan plastik atau dimasukkan ke dalam benda-benda yang terbuat dari plastik, karena bahan plastik itu akan membatasi / menghambat pancaran gaib dari benda gaibnya.

Pengisian Benda Mustika.

Benda-benda gaib yang sengaja diciptakan manusia dengan menuangkan sugesti / doa, selain yang berbentuk rajahan, juga bisa dituangkan ke dalam batu cincin / akik, batu kristal, air putih, sabuk kulit, dsb. Bahkan rumah kita sendiri pun, warung, dsb, bisa dijadikan bertuah atau berdaya kekuatan gaib, dengan kita menuangkan doa dan sugesti yang melingkupi rumah kita, dengan sambil berdoa kita menggerakkan tangan mengsugesti doa kita melingkupi rumah kita. Perajahan doa dan kekuatan gaib juga dapat dilakukan dengan cara menuliskan rajah gaib atau rajah energi di dada atau punggung seseorang, dilakukan dengan membacakan doa / amalan / mantranya sambil tangannya menulis rajah gaib di dada atau punggung seseorang.

Kalung salib, yang biasa dipakai oleh umat kristiani, juga bisa menjadi sebuah benda yang mengandung kekuatan gaib yang tinggi, kecuali bila kalung salib itu hanya dipakai saja sehari-hari sebagai lambang identitas. Jika dalam keseharian berdoa kalung salib itu biasa digunakan sebagai sarana sugesti / konsentrasi dalam berdoa, atau dalam perenungan-perenungan, kalung salib itu akan dapat menjadi sebuah benda yang berdaya gaib tinggi, melebihi kegaiban dari benda-benda gaib lain yang umum. Dalam hal ini kekuatan gaib dari kalung itu bukanlah berasal dari suatu sosok mahluk halus atau khodam benda gaib, tetapi berasal dari penghayatan kebatinan kerohanian si pemakai yang tersalur ke dalamnya, menjadi sarana doa dan kesatuan dengan Tuhan yang akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari si pemakai.

             Kaca cermin yang dipasang di bagian luar rumah (di atas pintu atau jendela) dan menghadap keluar rumah, dapat berfungsi sebagai penangkal aura energi negatif dari alam di sekeliling rumah. Berguna untuk rumah-rumah yang berada di sekitar lokasi pemakaman, di lingkungan padat penduduk, dsb. Kaca yang digunakan ukuran diameternya paling kecil sejengkal orang dewasa. Berbentuk bujur sangkar adalah yang paling baik, tetapi bisa juga berbentuk empat persegi panjang atau lingkaran.
Kaca cermin itu akan menjadi semakin baik kualitasnya sebagai penangkal aura negatif dengan dijadikan jimat rajahan, yaitu kita sendiri menuliskan doa-doa penangkal gaib negatif di cermin itu menggunakan kuas dan cat minyak untuk melukis dan menuliskannya sambil membacakan / melafalkan doanya untuk membantu kekuatan sugesti. Dan sama dengan jimat rajahan yang lain, secara berkala kita mengulangi doa yang tertulis dalam rajahan itu, sambil tangan kita menyentuh atau bergerak menunjuk mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahannya.

Penulisan Rajah.

Sebelum menulis/ menggambar rajahan, sebaiknya anda berdoa dahulu, luangkanlah waktu sejenak untuk mengkondisikan hati dan batin anda pada kedekatan dengan Tuhan. Setelah itu tuangkanlah isi hati anda sepenuh hati dan sepenuh rasa, doa-doa permohonan, keinginan-keinginan, dsb, ke dalam bentuk tulisan atau rajah, misalnya doa-doa supaya dilindungi dan dijauhkan dari kejahatan dan roh-roh jahat, kemudahan rejeki, karir, ketentraman keluarga, dsb. Doa-doa bisa juga diambilkan dari ayat-ayat suci, amalan-amalan gaib, mantra-mantra atau apa saja (termasuk doa-doa pribadi dari hati sendiri) yang anda anggap memiliki kekuatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan anda itu (doa-doa itu bisa juga digunakan untuk mengisikan kegaiban pada batu cincin atau benda-benda lain dengan cara batunya digenggam dan disugestikan doanya tersalur mengisi batu tersebut).

Selama melakukan perajahan itu doanya dibacakan / dilafalkan sepenuh hati dan sepenuh rasa mengikuti jalannya tulisan perajahan. Setelah selesai perajahan itu lakukanlah doa yang sama beberapa kali sambil mengikuti bentuk tulisan rajah anda untuk memperkuat sugesti doa anda, sampai anda merasa semua doa dan semua keinginan sudah tertuang ke dalam rajahan anda itu. Setelah tulisan / gambar rajah tersebut kering, rajah tersebut sudah bisa dipakai atau dipasang di dinding rumah / kamar. Secara berkala anda baca ulang apa yang tertulis dalam rajahan itu, dengan tangan menyentuh dan bergerak mengikuti bentuk tulisan / gambar rajahannya. Tanamkan sugesti keyakinan bahwa rajahan anda itu akan menjadi sarana doa untuk mewujudkan keinginan anda sesuai maksud yang tertulis / tergambar dalam rajahan anda.

        Dalam hal mengisikan kekuatan doa ke dalam batu akik atau benda-benda gaib lain, maka tidak perlu dilakukan perajahan. Cukup batunya digenggam dan disugestikan doanya tersalur mengisi batu tersebut.
Begitu juga dalam hal mengisikan kekuatan doa ke dalam air mandi (misalnya untuk dibasuhkan ke wajah untuk pengasihan) atau air putih (misalnya untuk dibasuhkan atau diminum untuk tujuan pengobatan), maka tidak perlu dilakukan perajahan. Cukup disugestikan doanya tersalur ke dalam air itu.

(Tulisan ini hanya sebagai wejangan untuk nambah wawasan,ambil sisi positifnya saja.).

Azimat-Azimat koleksi Padepokan Gunung Jati.Kunjungi Disini.

Tulisan Terbaru

PERAN GURU DALAM BELAJAR ILMU GAIB

Apakan belajar keilmuan harus ada guru pembimbing?
Apa yang terjadi bila belajar ilmu gaib tanpa guru dan tanpa pengijasahan langsung?
Apakan pengijasahan itu mbah??

Bisa di katakan setiap hari ada sms masuk di hp saya pertanyaan seperti di atas.perlu saya sampaikan di sini,bagi anda sebagai pemula belajar keilmuan yaitu ilmu gaib yang mengandung khodam-khodam tertentu dan mengandung unsur magic yang tidak bisa di cerna oleh akal fikiran manusia. Di sini akan saya jelaskan sedikit tentang pertanyaan seperti di atas,agar di lain waktu bila anda ingin menguasai ilmu-ilmu gaib anda sudah mengerti arti dari peran guru dan pengijasahan langsung kusus anda sebagai pemula belajar ilmu gaib.

1.apakan belajar ilmu gaib harus ada guru pembimbing?

-harus..!peran guru di dalam mengajarkan ilmu gaib adalah sebagai penuntun,yaitu guru mengajarkan sang murid harus mengikuti,misal untuk mengamalkan ajian tertentu si murid di suruh puasa selama sekian hari.dan mantranya harus di baca sekian kali juga.jadi peran guru,selain membimbing,mengawasi,menyelaraskan keilmuan yang cocok buat muridnya.juga membimbing agar sang murid tidak menyalahgunakan keilmuan yang telah di ajarkan dan membimbing menjadi orang yang waksito.

2.apa yang terjadi bila belajar ilmu gaib tanpa guru dan pengijasahan langsung?

-banyak orang yang belajar ilmu tanpa guru mengalami gangguan mental,dikarenakan ilmu yang di amalkan tidak cocok dan raga si pengamal belum siap menampung ilmu tersebut.karena di paksakan ingin juga menguasai ilmu tersebut maka di pastikan bisa mengakibatkan gangguan mental bahkan menjadi stres.sebelum sangguru mengijasahkan keilmuan pada si murid.harus di selaraskan dulu melalui proses pengijasahan yaitu dengan cara melalui nama lengkap,agama,dan nama ibu kandung..

"mengapa kok pakai ibu saya segala mbah.nanti ibu saya buat tumbal ilmu??"

pertanyaan di atas juga sering masuk dalam Hp saya.terkadang saya cuma tersenyum membaca pertanyaan seperti di atas.tapi saya sudah tahu.anda sebagai pemula belajar ilmu gaib sampai pertanyaan begituan masuk ke Hp saya.akan saya beberkan sedikit.untuk apa nama ibu kandung anda saya minta untuk pengijasahan suatu keilmuan.peran ibu kandung anda adalan untuk penyelarasan keilmuan,agar dapat dengan mudah anda kuasai dan cepat menyatu dalam darah daging anda.jadi keilmuan tersebut menyatu dan bisa anda kuasai dengan mudah lewat penyelarasan nama ibu anda.

3.apa sih pengijasahan ilmu itu mbah.??

-pengijasahan ilmu adalah memberikan/menurunkan keilmuan yang telah di ridoi dengan iklas oleh sang guru.jadi dengan demikian ilmu cepat dapat di kuasai karena sudah dapat restu dari sang pemilik atau yang mengijasahkan ilmu tersebut.ibarat anda mau pergi merantau.pasti anda akan meminta doa restu dari kedua orang tua anda.supaya anda di perantauan nanti berhasil,bisa sukses,selamat pergi di jalan sampai pulangnya kembali.begitu juga dengan suatu keilmuan. Sedikit saya beberkan pertanyaan-pertanyaan yang sering anda tanyakan kusus yang pemula belajar keilmuan.semoga bermanfaat dan mengerti pokok-pokok keilmuan dan kegunaan seperti pertanyaan di atas.

Trimakasih.Telah Sudi Membaca Uneg-Unek Saya.salam peseduluran.